MENAPAK BUMI GEORGIA : MENIKMATI GEORGIAN MILITARY HIGHWAY DENGAN SHARE TAXI

3 Comments


piknikcantik.com

Seorang wanita cantik berambut ikal pirang dengan bola mata biru asik membolak-balikan dokumen yang saya berikan. Kembali memandang ke arah saya dengan pandangan aneh dan melihat kembali ke berkas-berkas yang dipegangnya. Seketika dia berkata “Visa Indonesia”, dari antrian lainnya seluruh mata memandang ke arah saya. Seketika saya dan neng disuruh mundur dan menunggu, 2 orang lelaki menghampiri dan mempersilahkan kita ke posisi office dipojokan.

Untungnya saya sudah mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan diawal keberangkatan, karena saya tau sebagai pemegang paspor hijau pastinya datang ke Negara Timur Eropa adalah sebuah tanda tanya. Hampir 1 Jam kita menunggu, dikarenakan visa yang sudah kita print di cek kembali disistem mereka. Ya tentunya sebagai wisatawan, kita hanya mengikuti proses dan alurnya.

Mereka sempat bertanya “ Apa yang akan kalian lakukan di Tbilisi?
Apakah kalian sekolah disini?, Sambil menatap tajam postur mini kita dengan penuh tanda tanya. Ketika saya menjelaskan tujuan saya adalah “ Kazbegi ”, dia menjawab Good choice and Enjoy at Kazbegi. Kembali kita diarahkan mengantri di Imigrasi, menunggu giliran sampai akhirnya paspor hijau kita benar benar di cap.


PERJALANAN DIMULAI

Menjadi Travelmate untuk neng tidak terbayang untuk saya, karena sejujurnya kita hanya kenal sebagai teman kampus selama 4 Tahun. Sampai akhirnya kita bareng sejak memulai perjalanan ke Turki Bersama 4 lelaki lainnya, tapi tidak terbayang akan jalan bersama berdua menjelajah Georgia-pecahan Republik dari Uni Soviet.

Setelah perdebatan panjang dan tak sejalan dengan Team Turki untuk rute yang akan dituju selanjutnya, kita memilih masing-masing. Bang Mukhlis dan Ardy memutuskan melanjutkan ke Marocco-Afrika, Bang Yudi menuju Eropa Barat, Bang Ahmadi tetap focus mengexplore Turki sampai ujung, Saya dan neng memutuskan ke Georgia setelah dilema panjang.


Baca juga : Ekspedisi Turki 1

Danau Abudelauri Georgia
saya dan neng berlatar Danau Abudelauri

Awalnya kita berniat menuju Georgia via darat, tapi karena membaca informasi bahwa perjalanan sangat lama. Akhirnya kita memutuskan melalui jalur udara. Kita menggunakan Pegasus airlines dari Kayseri menuju Tbilisi. Harga pesawat yang kita beli saat itu adalah 3 Juta lebih return, dan kita memilih pulang jalur Tbilisi-Istanbul. Tentunya karena kita udah memegang tiket pesawat untuk kepulangan ke Indonesia dari Istanbul.

Dinginnya pagi menjadi awal cerita kita di Georgia, Tbilisi- Loves you.  Waktu masih subuh saat itu, ketika kita menginjak bumi Tbilisi. Sambil menunggu koper dari bagasi kita santai sejenak. Drama dalam perjalanan tidak pernah jauh-jauh dari kamu wahai pejalan, ha ha ha. Ketika menerima koper, drama awal didepan mata. Ganggang koper neng rusak dan tidak bisa ditarik, jadilah kita menyeret2 sambil membungkuk. Karena memang kita membeli asuransi perjalanan akhirnya kita meminta dibikinkan surat kerusakan agar bisa di klaim. Tapi karena komunikasi kita yang terbatas jadilah gak singkron antara saya dan orang bandaranya.

Tidak menyerah dan tetap memaksa menarik ganggang koper yang tetap berakhir gagal. Akhirnya saya menuju kerumunan polisi dan meminta tolong. Wkwkwkw, Dengan sigapnya ada beberapa yang menghampiri kita dan menolong drama ganggang koper. Dengan kekuatan sim salabim, akhirnya bener juga itu ganggang. Seketika kita berfikir, mungkin pagi yang dingin itu kita lelah, ha ha ha.

Hal lain yang kita lakukan adalah ke money changer bandara, menukarkan USD kita ke Gel ( Nama mata uang Georgia), lagi lagi drama terjadi, uang 100 USD neng ditolak karena dinilai termasuk uang lama. Rasanya pagi itu saya sediihhhhhhhh banget, karena sudah 2 drama kedatangan yang menyambut kita. Setelah tiga counter money changer yang menolak uang tersebut, kita tak putus asa menukarkan ke tempat lain. Sampai akhirnya ada sebuah Bank yang menerimanya, dan taraaaaaaa kita berpelukan sambil tersenyum ala pepsodent.

Oh ya, jangan lupa membeli simcard local ya. Saat itu kita menambatkan hati pada "Magti simcard" dengan harga 20 Gel, bisa digunakan untuk 7 days. Sinyal sampe kita ke puncak Gergeti juga masih kenceng blassssss.

                                                                                         ***
Hampir 3 jam kita berada di bandara, bukan sengaja mau berlama lama disini. Tapi karena bus kota yang baru beroperasi di jam 8 pagi.

Baca juga : Langkah mudah mengurus E-Visa Georgia

PUBLIC TRANSPORT DI GEORGIA

Bus bewarna kuning menyambut kita kala itu, bus bernomor #37. “Akhirnyaaa kita menuju kota, itulah ucapan pertama ketika melihat bus yang kita nantikan, saat itu jam 8 pagi waktu Tbilisi . Sebelum membayar kita kembali bertanya di dalam bus “Apakah bus ini berhenti di Tbilisi Station? dan seorang kenek cewek mengiyakan. Hanya membayar 0,50 Gel kita sudah bisa sampai ke tujuan. 1 Gel itu kurs nya bekisar 5.500 rupiah, murah banget kan?

Tbilisi City
Suasana kota Tbilisi
Perjalanan kita disambut dengan suhu yang lumayan membuat kita merinding disco, dinginnnnn. Setelah sampai ke Tbilisi station, seorang kenek wanita tadi turun dan menunjuk bus yang menjadi tujuan kita selanjutnya. Adalah nomor #15 menuju Didube station. Hal pertama yang menjadi kekaguman saya adalah keramahan mereka tehadap kita, dapat dilihat ketika sampai dan dia berbincang dengan beberapa orang hanya untuk bertanya bus tujuan ke Didube.

Setelah sampai Didube stasiun kita berkeliling mengitari pasar pasar yang ternyata merupakan area minivan dan taxi untuk menuju Kazbegi. Setelah menawar harga, Kita memilih taxi karena akan berhenti di 3 spot wisata yang dilalui dengan harga 20 Gel per orang. Berhubung neng lemes dan kedinginan, akhirnya kita mendealkan agar tidak berlama-lama diluar. Kalau mau irit lagi sebenarnya bisa memilih minivan dengan selisih lebih murah 10 Gel.

Sudah setengah jam kita menunggu tapi taxi belum juga jalan, sampai akhirnya saya berunding kembali dengan supir taxinya. Apabila sampai 15 menit lagi tidak jalan, saya memutuskan naik van saja. Akhirnya dia dengan sigap mencari orang dengan gencarnya agar bergabung di taxi bareng kita. Dan 2 orang Polandia akhirnya menjadi teman perjalanan kita menuju Kazbegi.Ha ha ha

GEORGIAN MILITARY ROAD DAN SEBUAH KISAH DIPERJALANAN

Berasa orang udik, disuguhi pemandangan yang luar biasa bikin saya gak bisa berkata kata. Si neng di sepajang perjalanan ngomong begini “Neng, ini bener kan ya? Gak mimpi kan ya? Coba tampar neng? Begitu ucapnya terus menerus, sampai saya berasa pengen bener-bener nampar. Hu hu hu



Pak pir dan bang bewok Polandia


Pegunungan Caucasus
View di Georgian Military Road

Pegunungan Caucasus
Wilayah Pegunungan Caucasus dari kaca mobil
Waktu perjalanan hampir 5 jam, tapi gak bakal kerasa karena pemandangannya bikin nyengir. Sebagai pecinta film Game Of Thrones, saya kayak berada di dunia nya. John snow dimana kamu? (kalau beneran ada, saya gak apa-apa ditinggalin dimari) ha ha ha.


Sepanjang perjalanan menuju Kazbegi, kita melewati jalur Georgian Military Highway. Yang mana disepanjang perjalanan kita hanya disuguhi view alam dengan daun-daun berwarna keemasan bersama tumpukan salju dan juga castle-castle khas Georgia yang memiliki sejarah panjang.  Georgian Military Road ini menghubungkan Tbilisi (Georgia) dan Vladikavkaz (Rusia), Titik tertinggi dari Georgian Military higway adalah Jvari Pass dengan tinggi 2.379 m.  Kita melewati bangunan-bangunan seperti Hvacerik monastery, Saguram. Kemudian 3 spot pemberhentian nya adalah Danau Abudelauri,  Anaruri Castle, dan Gudauri,  Ini spot kece, kalau mau lebih lama disini, saya sarankan kalian menyewa taxinya tanpa share cost dengan penumpang lain.

Danau Abudelauri Georgia
Danau Abudelauri

Ditengah perjalanan kita di infokan bahwa jarak ke Rusia sudah 15 km lagi,  kalau mau dilanjutkan kita akan berada di border cross Negara Rusia. Berhubung waktu yang padat, singkat dan belum punya visa juga, akhirnya cinta kita tetap menetap di Kazbegi.

Betewe Pernah denger tentang pegunungan Caucasus? Yapp, akhirnya saya melihat dengan mata kepala saya sendiri dan menakjubkan.


PENGINAPAN MURAH DAN SENSASI UJI NYALI 

Waktu menunjukkan pukul 16.30 ketika kita sampai ke penginapan. Uptown Guest house adalah penginapan dengan nilai termurah yang kita temukan di Booking.com. Kita hanya membayar 30 Gel berdua atau 170 ribu rupiah, kamar private dengan kasur bertingkat, dan tepatnya berada di Gergeti Village.

Tapi jangan heran ketika apa yang kalian bayar sesuai dengan keadaan, ha ha ha. Pas kita booking memang tidak ada review sama sekali, ya kita berfikir ini adalah guest house baru. Jangan kan terfikirkan tentang hantu, dapet murah aja udah syukur Alhamdulillah.


Nilai positif selalu saya tanamkan dalam perjalanan, tau kenapa ? Biar asik terus… ha ha ha. Padahal..

Sensasi horror sudah kita rasakan di kedatangan, gimana gak? Rumah beraksen tua bertingkat yang di jadikan guest house ini hanya berisi kita berdua. Wkwkwkwk

Apakah ada Receptionist atau yang menjaganya? Jawaban saya tidak

Trus yang menyambut siapa? Ketika kita sampai dan menelfon, ada seorang bapak2 datang kira-kira 10 menit setelah kita menunggu dan memberikan kunci kamar dan hanya bilang apabila kalian butuh bantuan telfon saya.

Kazbegi Village
View dari jendela Guest house
Kazbegi Village
Berlatar Puncak Mount Kazbegi 
Karena kita juga lelah, kita memilih istirahat tanpa melanjutkan pikiran-pikiran aneh tadi.

Jam 7 malam kita terbangun dan berniat untuk makan keluar, Tapi karena diluar begitu gelap dengan tidak adanya tanda-tanda orang lewat ataupun kehidupan dan begitupun di guest house ini. Akhirnya kita memilih memasak indomie dan memanaskan rendang yang kita bawa.

Dan serunya, karena kesan horror dan sepinya penginapan ini. Saya dan neng memilih tidur di 1 kasur berdempetan. Mengunci pintu dengan menumpukkan tas-tas kita di depannya, berharap tidak akan ada gemericit pintu yang akan terbuka kemudian Wkwwkwk.

Note : Ini adalah sepenggal kisah di hari pertama menginjak bumi Gerogia


You may also like

3 komentar:

  1. Puncak Mount Kazbeginya merah, kaya gunung api
    Kapan ya saya bisa ke sana, hehehe

    btw, salam kenal Mbak. Mau info aja kalau blognya pas buka di awal ada warning 17+. Lihat settingnya lagi ya

    BalasHapus
  2. Kalau ke luar negeri emang harus beli nmr lokal biar updatan lancar
    Dan sinyal lancar jaya waktu di gunung, ini enak banget deh. Sama menikmati jalan2 tentunya

    BalasHapus
  3. Keren banget ya view-viewnya CHot... seru banget sik perjalanan kalian.. Make me wanna go there.

    Btw, jangan2 kalian duo traveler paling mini yang pernah ngunjungi kazbegi yak Chot. wkwkw

    BalasHapus

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkomen ria disini